PENGAJARAN BAHASA DAN DASAR-DASAR TEORITISNYA

Segala sesuatu agar dapat berdiri secara kuat, utuh, berjalan secara maksimal membutuhkan pondasi atau pijakan yang kuat secara teoritis. Demikian juga dengan proses pengajaran bahasa Arab. Pengajaran bahasa asing baik bahasa Arab atau bahasa Inggris sebenarnya membutuhkan pijakan teoritis yang kuat, yang lahir dari tokoh pendidikan. Maka dalam bab ini penulis akan membahas dasar-dasar teoritis pembelajaran bahasa, dalam hal ini bahasa Arab. Dasar-dasar teoritis yang pertama berkenaan dengan kejiwaan peserta didik sebagai subyek pembelajaran yang disebut dengan ilmu jiwa, dasar yang kedua berkenaan dengan unsur-unsur bahasa yang menyangkut unsur kebahasaan sebagaimana dijelaskan oleh Shalāh Abdul Majid.
Abdul Majid mengidentifikasi dasar-dasar teoritis pembelajaran bahasa menjadi tiga macam yaitu dasar ilmu jiwa (1981 : 7-18) dasar kebahasaaan (1981 : 19) dan dasar kependidikan (1981 : 37 – 38). Dasar ilmu jiwa berkenaan dengan kejiwaan peserta didik, dasar kebahasaan berkenaan dengan keterampilan berbahasa dan unsur-unsur bahasa. Sedang dasar kependidikan berkenaan dengan metode-metode yang dipergunakan dalam pengajaran bahasa secara umum. Dalam kajian ini akan dibahas pula tentang metode-metode pengajaran bahasa secara umum termasuk pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing.
Senada dengan identifikasi Abdul Majid tersebut, Ahmad Fuad Effendy mengidentifikasi dasar-dasar pembelajaran bahasa menjadi dua macam yaitu ilmu jiwa (2009 : 12) dan kebahasaan (2009 : 17).  Menurut klasifikasi Effendy ini dasar ilmu jiwa itu menyangkut dasar-dasar kejiwaan sekaligus dasar-dasar kependidikannya. Sementara dasar kebahasaan menyangkut dasar-dasar bahasa sebagai ilmu atau keterampilan.
Oleh sebab itu, dalam bab ini akan dibahas secara detail dasar pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing, baik dasar yang berhubungan dengan ilmu jiwa dan ilmu bahasa.
A.    Teori Ilmu Jiwa
Para ahli ilmu jiwa sepakat bahwa ada beberapa faktor dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik demi keberhasilannya. Secara garis besar faktor itu dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan segala sesuatu yang mempengaruhi proses pembelajaran dan bersumber dari dalam diri peserta didik, misalnya bakat, minat, kemauan, cita-cita, obsesi, kebutuhan, pengalaman dari diri pelajar. Sedangkan faktor eksternal merupakan segala sesuatu yang mempengaruhi proses pembelajaran dan bersumber dari luar diri peserta didik misalnya lingkungan, guru, teman, sarana prasarana, buku teks dan lain sebagainya.
Muncul persoalan lebih lanjut dari peran kedua faktor tersebut, mana yang lebih dominan dari dua faktor tersebut. Apakah faktor internal yang berasal dari dalam diri peserta didik, ataukah faktor eksternal yang berasal dari luar diri peserta didik. Untuk menjawab persoalan ini menyebabkan munculnya dua aliran pemikiran dalam ilmu jiwa, dalam hal ini ilmu jiwa pembelajaran atau pendidikan. Aliran yang pertama (behaviorisme) berpendapat lingkungan dalam arti faktor eksternal lebih mendominasi daripada faktor internal. Sedangkan aliran kedua (kognitif) berpendapat sebaliknya, bahwa peran peserta didik dalam bentuk ilmu pengetahuan atau pengalaman masa lalu lebih mendominasi dari pada faktor eksternal.
1.    Aliran Behaviorisme ( النظرية الحسية السلوكية )
Aliran behavirosme lebih menekankan pada proses perubahan yang dilakukan oleh peserta didik. Artinya belajar sebagai bentuk perubahan itu terjadi pada diri peserta pendidik secara internal dan lebih dipengaruhi faktor eksternal atau stimulus luar.
Aliran ini dipelopori oleh ilmuwan Rusia Ivan Pavlov (1849 – 1939) yang memunculkan teori kondisioning klasik (classical conditioning), sebagai hasil atas uji cobanya pada seekor anjing. Selanjutnya teori ini dikembangkan oleh Edward L Thorndike dengan hukum efeknya yang terkenal ( قانون الأثر ) yang menyatakan bahwa belajar bukan hanya didasari adanya stimulus dan respon semata, tetapi juga dipengaruhi adanya pesan yang terjadi pada diri peserta didik tatkala terjadinya hubungan stimulus dan respon. Selanjutnya belajar sebagai hubungan antara stimulus dan respon itu akan bertambah kuat tatkala disertai dengan hadiah atau hukuman.
Dengan demikian aliran ini menempatkan faktor eksternal sebagai faktor yang dominan dalam pembelajaran. Menurut aliran ini belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat hubungan antara stimulus dan respon. Dan hubungan antara stimulus dan respon dapat melahirkan tingkah laku yang baru sebagai hasil belajar.
Aliran ini melahirkan pendekatan audiolingual dalam pembelajaran bahasa. Menurut aliran ini bahwa guru sebagai faktor eksternal sangat besar perannya dalam proses pembelajaran bahasa, sebab dialah yang membentuk dan menciptakan beberapa stimulus dalam proses pembelajaran, menentukan respon dari peserta didik, memberikan penguatan, menentukan buku ajar dan materi pembelajaran bahasa.
Aliran ini menegaskan pentingnya latihan dalam pembelajaran bahasa, menghafalkan sebagian ungkapan dan kosa kata, menghafalkan percakapan yang berupa pertanyaan dan jawaban, begitu juga ucapan yang betul dan ejaan yang benar dalam berbahasa. Oleh sebab itu, aliran ini lebih berpendapat bahwa faktor eksternal lebih mendominasi dalam proses belajar, termasuk belajar bahasa.

2.    Aliran Kognitif (  النظرية المعرفية  )
Aliran ini berpendapat bahwa belajar terjadi bukan karena faktor eksternal, tetapi lebih dipengaruhi faktor internal atau peserta didik. Peserta didiklah yang dominan dalam proses belajar dan dialah yang menentukan lingkungannya sendiri. Peserta didiklah yang memilih stimulus dari luar dengan catatan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan peserta didik.
Pelopor aliran cognitive antara lain Noam Chomsky dan James Deez yang berpendapat bahwa setiap manusia memiliki kemampuan dasar (fitrah) untuk belajar bahasa. Aliran ini berpendapat bahwa faktor internal lebih dominan ketimbang faktor eksternal. Hubungan antara stimulus dan respon memang mengakibatkan proses pembelajaran tetapi sebenarnya peserta didik akan memilih respon yang sesuai dengan minat, bakat atau pengalaman dan kebutuhan dari peserta didik.
Tokoh-tokoh aliran ini berpendapat bahwa kemudahan penguasaan bahasa akan menjadi sempurna, jika melewati tiga tahapan berikut sebagaimana dikutip oleh Abdul Majid (1981 : 16) :
a.    Dalam akal manusia dilengkapi dengan layar mirip dengan radar yang dapat menangkap gelombang bahasa, mengatur dan menghubung-hubungkannya yang dinamakan dengan markaz isti’āb al lughah.
b.    Setelah radar ini menangkap gelombang kebahasaan, maka akan diatur dan dikirimkannya kepada kemampuan lain yang dinamakan dengan kompetensi kebahasaan (al kifā’ah lughawiyyah).
c.    Peserta didik akan mempergunakan kemampuan kebahasaannya dalam memproduksi kalimat, ungkapan dalam bahasa yang dipelajarinya berdasar kebutuhan dan keinginan sesuai dengan kaidah bahasa.
Aliran kognitif ini menolak pendapat yang mengatakan bahwa belajar merupakan hasil stimulus dari luar saja tanpa mempertimbangkan keterlibatan dan peran peserta didik. Aliran kognitif ini berpendapat bahwa peserta didik yang mendominasi dalam proses pembelajaran dan memutuskannya secara mandiri, sedang lingkungan bukanlah faktor pertama dan terakhir atas pengaruh negatif atau positif dalam diri peserta didik.
Oleh sebab itu dalam praktik pembelajarannya harus memperhatikan beberapa ketentuan. Ketentuan-ketentuan tersebut telah dijelaskan oleh Ausubel dan Carrol dalam Abdul Majid (1981 : 13) sebagai berikut :
a.    Indera peserta didik akan menerima sebagian stimulus dari lingkungan sekitar.
b.    Peserta didik akan memilih dari stimulus ini yang sesuai dengan keinginan, kebutuhan dan kemampuannya serta akan memahami relasi antar stimulus tersebut serta mengorganisirnya.
c.    Peserta didik akan menyesuaikan antara stimulus yang dipilih dengan pengalaman yang dimilikinya menghubungkan dan menafsirkannya sesuai dengan motif, kemampuan, pandangan dan lingkungan di mana stimulus itu muncul.
d.    Peserta didik akan merespon stimulus dengan tetap menjaga kebutuhan, kemampuan dan situasi yang mencakup stimulus dan resppon yang menyertainya.
e.    Peserta didik akan merespon stimulus dari lingkungan dengan tetap menjaga keseimbangan sikapnya ketika melihat sesuatu yang akan dilakukan tidak sesuai dengan pandangan dan lingkungannya.
f.    Peserta didik akan belajar dan mengulanginya dalam situasi yang mirip jika dia mendapatkan penguatan secara internal atau eksternal.
Demikian ketentuan dari pandangan teori kognitif dalam pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing. Dari ketentuan itu, dapat dipahami bahwa teori kognitif menempatkan peserta didik dengan segala potensinya sebagai faktor yang mendominasi dalam proses pembelajaran, termasuk pembelajaran bahasa asing.

B.    Teori Ilmu Bahasa
Para ahli bahasa juga berbeda dalam pembelajaran bahasa didasarkan pada cara pandang mereka tentang hakekat bahasa. Berdasar cara pandang para ahli bahasa tentang bahasa maka muncullah dua aliran dalam pengajaran bahasa yaitu structural dan Generatif Transformatif.
1.    Aliran Struktural
Aliran ini dipelopori oleh Ferdinand De Saussure (1857 – 1913) linguistic Swiss dan dikembangkan oleh Leonard Bloomfield. Ferdinand menjelaskan hakekat bahasa dan membedakan antara proses berfikir dan aspek inderawi, dan dia juga menjelaskan antara hubungan antara rumus bahasa dan makna. Bahasa itu tidak akan bermakna jika pembicara dan pendengar tidak mampu memahaminya.
Beberapa pokok pikiran aliran ini adalah sebagai berikut (Abdul Majid, 1981 : 22 – 23) :
a.    Kemampuan bahasa diperoleh melalui pembiasaan dan latihan serta penguatan.
b.    Bahasa itu dimulai dari ujaran atau komunikasi lesan
c.    Setiap bahasa memiliki sistem tersendiri yang berbeda dengan sistem bahasa lain.
d.    Setiap bahasa merupakan sistem yang utuh untuk mengekspresikan penutur aslinya.
e.    Setiap bahasa selalu mengikuti perubahan zaman.
f.    Sumber kebakuan bahasa terletak pada penutur aslinya.
g.    Sesungguhnya tukar pikiran, gagasan dan komunikasi antar manusia merupakan tujuan pokok berbahasa.
h.    Kajian ilmiah dalam bidang biologi dan alam sesuai dengan analisa bahasa-bahasa.
Demikian beberapa pokok pikiran yang mendasari aliran ini dalam pembelajaran atau pengajaran bahasa khususnya.
2.    Aliran Generatif Transformatif
Aliran ini dipelopori oleh Noam Chomsky, ahli bahasa Amerika, yang muncul sekitar tahun 1957. Aliran ini berpendapat bahwa setiap penutur bahasa harus mengetahui sistem suara, kaidah nahwu dan shorofnya dalam bahasa Arab, jika dia tidak tahu, maka dia tidak akan dapat membuat kalimat, ungkapan yang pernah didengarnya. Menurut Chomsky bahwa tata bahasa dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu struktur luar (al binā’ al zhāhiri : surface structure) dan struktur dalam (al binā al asāsi : deep structure). Menurut Chomsky bahwa kemampuan berbahasa dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kompetensi dan perfomansi. Kompetensi adalah pengetahuan tentang sistem bahasa yang meliputi pengetahuan sistem kalimat (sintaks), sistem kata (morfologi), sistem bunyi (fonologi) dan sistem makna (semantic). Sedangkan perfomansi adalah ujaran-ujaran yang bisa didengar atau dibaca yang merupakan tuturan aslinya.
Berdasar teori ini, maka pengajaran bahasa harus berdasarkan beberapa prinsip yaitu (Abdul Majid, 1981 : 31 – 33) :
a.    Kemampuan bahasa merupakan proses kreatif maka pembelajar harus diberi kesempatan yang sebesar-besarnya untuk berkreasi dalam komunikasi.
b.    Pemilihan materi berdasar kebutuhan akan komunikasi dan penguasaan fungsi-fungsi bahasa.
c.    Kaidah nahwu diberikan sepanjang diperlukan oleh pembelajar sebagai landasan untuk berkreasi.
Demikian beberapa pokok pikiran aliran ini dalam proses pembelajaran secara umum atau pembelajaran bahasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *